Tampilkan postingan dengan label Pura di Bali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pura di Bali. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Agustus 2012

Kemegahan Pura Puncak Penulisan

Bali sangat terkenal akan kekayaan obyek wisatanya, selain itu  Bali juga dijuluki Pulau Seribu Pura, salah satunya Pura Puncak Penulisan.  Pura yang satu ini berada di Desa Sukawana, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli Bali. Pura Puncak Penulisan keberadaannya diatas bukit dengan ketinggian 1.745 meter diatas permukaan laut (dpl). Dimana Pura ini memiliki fungsi sebagai tempat untuk melakukan pemujaan terhadap Dewa Siwa yang merupakan manifestasi dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Pura ini juga sering disebut dengan Pura Tegeh atau Pura Pamojan.

Pura ini memiliki nilai historis yang tinggi dan beberapa keunikan yang membuatnya berbeda dengan pura lainnya, dimana di Pura ini banyak terdapat benda-benda peninggalan masa Megalitikum sampai dengan masuknya peradaban Hindu ke Bali, oleh sebab itu tak jarang para wisatawan sangat tertarik untuk mengunjungi pura yang satu ini. Selain itu tak jarang juga para umat melakukan persembahyangan memohon keselamatan di Pura Puncak Penulisan ini, terutama umat Hindu. Sebagian besar penduduk di sini bermata pencaharian sebagai Petani.

Masalah awal pembuatan Pura ini belum jelas dan tak banyak yang mengetahuinya, namun berdasar pada beberapa peninggalan yang ada diperkirakan pembangunan dimulai pada tahun 300 M (jaman perunggu) dan dilanjutkan pada abad ke-10 sampai berakhirnya kekuasaan Majapahit tahun 1343 M.

Bentuk Pura Puncak Penulisan menerapkan 2 konsep yaitu yang pertama diambil dari masa pra-sejarah dimana nampak dengan jelas terutama dari struktur bangunannya yang bertingkat. Dan konsep yang kedua ialah pembangunan pura ini yang mencapai 7 tingkat dimana tingkat pertama dan kedua dihubungkan dengan tangga. Sedangkan di tingkat ke-3 terdapat Pura Dana dan Pura Taman Dana, di tingkat ke-4 terdapat Pura Ratu Panyarikan sedang ditingkat ke-6 terdapat Pura Ratu Dahatua, terakhir di puncak ke-7 adalah puncak pura terdapat pelinggih tempat pemujaan Pengaruman, Piyasan dan Gedong sebagai tempat menyimpan benda-benda purbakala.

Nikmatilah Liburan anda di Bali dengan menengok kemegahan Pura Puncak Penulisan Bersama kami KSB Tour & Travel .

Menikmati Kemagisan & Keunikan Pura Srijong


Banyak Pura di Bali yang memiliki keunikan serta daya tarik tersendiri di mata Para Wisatawan. Salah satunya Pura Srijong. Pura Srijong berada di Desa Soka Batu Lumbang, Kecamatan Bajera, Kabupaten Tabanan, Bali. Pura Srijong memiliki keunikan serta daya tarik tersendiri yang dapat memikat para wisatawan diantaranya, Letaknya yang berada di bibir pantai yang dikelilingi oleh pepohonan soka dan semak-semak, serta didukung dengan aura mistis nan mengandung kekuatan magis pun begitu kuat terasa ketika berada di sekitar Pura Srijong, sehingga menambah minat para wisatawan untuk mengunjungi Pura Srijong ini.

Tak jarang umat Hindu melakukan persembahyangan di Pura ini sembari menikmati keeksotisan pantai yang terbentang luas di Pura ini. Pura Luhur Srijong merupakan pura Dang Kahyangan, yang mana di tempat ini digunakan untuk memuja Dewa Wisnu yang dipercaya sebagai manifestasi dari Sanghyang Widhi Wasa sebagai bentuk penguasa lautan. Alkisah, bahwa dulunya di daerah ini warga pernah melihat adanya seberkas sinar yang muncul di tepian pantai yang berbatu katang. Kemudian warga meyakininya bahwa cahaya terang tersebut merupakan pertanda baik sehingga didirikanlah sebuah pura yang kemudian dikenal dengan Pura Luhur Srijong.


Seperti halnya dengan pura yang lainnya di Bali, Pura Srijong menerapkan Konsep Tri Mandala yaitu pada Jaba Sisi ( Nista Mandala) terdapat Bale Gong, Bale Pegat, Bale Pogo dan juga Kwargan Suci. Yang kedua pada Jaba Tengah (Madya Mandala) terdapat Pelinggih Ratu Nyoman, Peliasan Ratu Nyoman, Lumbung, serta Bale Panjang. dan yang terakhir tempat yang paling sakral dan sangat di jaga kesuciannya adalah bagian Jeroan (uttama Mandala), disini terdapat Padmasana, Meru Tumpang Tiga, Pelinggih Batara Segara, Palinggih Taksu Agung, Bale Simpan, Bale Agung, dan juga Bale Peliasan.
Kawasan Pura Srijong ini, sangatlah dijaga kesucian serta kelestariannya, karena di Pura ini sangat kental memiliki nilai historis yang tinggi dan kesakralan yang dimilikinya sangat kuat, maka tak jarang umat Hindu sangat gemar bersembahyang di Pura ini untuk memohon keselamatan dan tak jarang para wisatawan untuk memasuki Pura Srijong ini ke daftar wisata di Bali yang patut dikunjungi. selain itu beberapa fasilitas yang cukup memadai untuk menopang pondasi pariwisata di Pura ini, diantaranya warung penjual makanan dan minuman, toilet, areal parkir yang cukup luas. Jangan lewatkan wisata yang satu ini, menikmati kemagisan & keunikan Pura Srijong bersama kami KSB Tour & Travel di Bali.

Menengok Keasrian Pura Alas Jagasari


Julukan "Bali dengan Pulau Seribu Pura" sangat cocok diberikan kepada Bali. Dimana Bali tak habis-habisnya akan wisata Puranya, salah satunya Pura Alas Jagasari. Pura Alas Jagasari berada di Dusun Penempahan, Manukaya, Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali. Pura Jagasari mamiliki keunikan tersendiri, dimana disekeliling pura ini dipagari oleh hutan kecil yang berisi berbagai tanaman untuk keperluan upacara keagamaan yang biasanya diadakan di Pura Alas Jagasari ini. Selain itu Pura ini ialah gabungan dari Bale Agung dan Pura Puseh.

Tak jarang para wisatawan sangat menggemari berkunjungi ke Pura ini, selain menikmati keasrian Pura Jagasari para wisatawan akan disuguhkan corak arsitektur yang ada di pura ini  lebih menonjolkan arsitektur pada masa Kerajaan Kediri abad ke X-XI masehi.Dimana didalamnya ada dua buah arca kuno yang dipercaya oleh penduduk sekitar sebagai manifestasi dari soso Raja Warmadewa atau Sri Kesari Ratna Bumi Banten dan juga Permaisuri Mahandradatta atau Gunapriya Dharmapadni.Seakan anda menikmati aura kerajaan yang masih sangat kental di Pura Alas Jagasari ini.

Bentuk dan bangunan pura ini seumur dengan pura-pura yang ada di sekitar Pura Pegulingan, Pura Mangening, dan juga Pura Tirta Empul. Selain itu, keberadaan pura ini juga tertulis dalam sebuah prasasti di Pura Sakenan Manukaya dimana dalam prasasti tersebut tertulis nama Panempahan serta Wharmadewa saat menentukan daerah dan status predikan atau daerah yang dibebaskan dari pajak. Oleh sebab itu, diduga Pura ini dibangun pada abad X – XI masehi dimasa Kerajaan Bali Kuno Wharmadewa berkuasa.
Bagi anda para wisatawan yang gemar akan nuansa kerajaan kuno, Pura Alas Jagasari ini sangat cocok menambah daftar wisata anda di bali bersama kami KSB Tour & Travel.

Menengok Keindahan Pura Gunung raung


Selain Gianyar terkenal akan gudangnya seni , Kabupaten Gianyar juga terkenal akan Puranya, salah satunua Pura Gunung Raung. Pura ini berlokasi di Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Bali. Pura ini merupakan Pura Kahyangan Jagat yang berada di Bali.

Pura ini memiliki keunikan serta daya tarik yang dapat memikat para wisatawan diantaranya pura ini menghadap ke arah Timur, bisa dikatakan diluar kelazimannya sebuah pura yang biasanya menghadap ke arah Barat. Selain itu, keunikan lainnya yakni pura ini memiliki 4 pintu.  dimana empat pintu tersebut mengikuti arah mata angin, yaitu  Timur, Utara dan Selatan yang pintunya berbentuk Candi Bentar. Sedangkan pintu di Barat hanya berupa pintu kecil. dimana keempat pintu ini memiliki makna tersendiri yaitu, pemikiran baik dan mulia biasanya muncul dari keempat penjuru mata angin.

Diperkirakan pura ini pertama kali dibangun pada abad ke VIII yang bermula dari perjalannya Dang Hyang Sri Markandya yang berasal dari daerah Jawa Timur. Maksud kedatangan Dang Hyang sendiri ialah untuk menyebarkan pendidikan rohani kepada sebanyak mungkin umat untuk kemudian bisa menata kehidupan duniawinya. Beliau dikenal tak pernah lelah, sampai akhirnya segala asanya bisa terwujud. Dalam perjalanannya iapun didampingi oleh Wong Age yang sangat setia kepadanya. Dan selama di Bali beberapa pura didirikan seperti Pura Gunung Lebah, Pura Besakih, dan juga Pura Gunung Raung.

Tak jarang para umat Hindu mengunjungi Pura ini bertujuan untuk memperdalam keilmuan kerohanian dan keduniawian supaya segala apa yang diinginkannya bisa dikabukan oleh Dewata, selain itu banyak para wisatawan yang sangat tertarik terhadap keindahan yang dimiliki Pura Gunung Raung ini. Pura ini juga telah dilengkapi dengan beberapa fasilitas yang dapat mendukung dya tarik para wisatawan, diantaranya pendopo, toko souvenir, warung makanan dan minuman, areal parkiran yang cukup luas, dan juga toilet. Jangan lewatkan wisata Pura Gunung Raung, menikmati keindahan Pura ini bersama kami KSB Tour & Travel di Bali.

Senin, 20 Agustus 2012

Mengunjungi Keindahan Pura Gel gel

Pura Gel Gel berada di Desa Gel Gel (sesuai dengan nama pura), Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali Pura Dasar Gelgel dipelihara, dijaga dan dirawat oleh Desa Pakraman Gelgel yang terdiri atas 28 Banjar dan tiga Desa Dinas ( Desa Gelgel, Desa Kamasan dan Desa Tojan).

Pura Gel Gel merupakan pura Dang Khayangan Jagat . Selain itu Pura ini memiliki konsep Kaula Gusti Manunggal yakni sebagai pemersatu umat Hindu di Bali. Pura ini didirikan dengan maksud untuk menghormati Empu Ghana, yakni seorang suci yang dianggap paling berjasa dalam perkembangan agama Hindu di Bali.


Seperti Pura lainnya di Bali, Pura Gel gel juga menerapkan konsep Tri Mandala yaitu, Utama Mandala (Jeroan), Madyta Mandala (Jaba Tengah), Nista Mandala (Jaba Sisi). Pada Bagian Nista Mandala (Jaba Sisi) terdapat Kerangkeng pohon beringin besar tumbuh di bagian Nista Mandala, yang mana pohon beringin ini menjadi saksi bisu perjalanan pura dari kurun waktu ke waktu.  Pada bagian Madya Mandala (Jaba Tengah) terdapat Pelinggih Bale Agung dengan panjangnya mencapai 12 meter. Dan terakhir pada bagian Utama Mandala (Jeroan) terdapat benda-benda pusaka diantaranya belasan pelinggih, Meru Tumpang Tilu, Meru Tumpang Solas. Bagian ini sangat dijaga kesakralan, karena disini tempatnya para dewa berstana. Nikmatilah keindahan dan kesakralan Pura Gel gel bersama kami KSB Tour & Travel di Klungkung Bali.

Jumat, 17 Agustus 2012

Pura Batu Klotok


Pura Batu Klotok merupakan salah satu pura yang terdapat di Bali. Pura Batu Klotok termasuk dalam Pura khayangan Jagat di Bali. Pura ini terletak di Banjar Celepik, Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung. Lokasinya berada di pinggiranPantai Batu Klotok atau sekitar 5 km ke arah selatan Kota Semarapura. Jika ditempuh dari Denpasar berjarak sekitar 42 km atau sekitar 1 jam menggunakan kendaraan bermotor.

Pura Batu Klotok ini kerap kali menjadi tujuan persembahyangan bagi umat Hindu, dimana pura ini dijadikan sebagai tempat pemujaan Ida Bhatara Brahma atau Pesanggarahan Ida Betara Besakih serta pura ini difungsikan sebagai tempat memohon keselamatan supaya tanah pertanian menjadi subur, makmur, gemah ripah lohjinawi. Selain melakukan persembahyangan, umat atau para wisatawan dapat menyaksikan keindahan kawasan Kepulauan Nusa Penida dan Hotel Bali Beach di Pantai Sanur. Selain itu pura ini terkenal akan panorama alamnya yang megah.  Diantaranya anda akan disuguhkan kemegahan alam pesisir pantai yang terbentang luas serta latar belakang persawahan yang hijau ditambah nampaknya keindahan gunung Agung dari kejauhan menambah nilai daya tarik pada pura ini dan menjadikan pura Batu Klotok yang tak boleh dilewatkan dalam daftar wisata anda di Pulau Bali.


Seperti halnya dengan pura-pura yang lain yang terdapat di Bali, Pura Bau Klotok juga menerapkan konsep Tri Mandala yaitu Utama Mandala (Jeroan), Madya Mandala (Jaba Tengah), Nista Mandala (Jaba sisi). Pada Nista  Mandala (Jaba Sisi) anda akan disuguhkan Candi Bentar, Pelinggih Sanghyang Kala Sunia, Arca Dwapala, Bale Pawedaan, Pelinggih Ida Batara Dalem Ped, dan juga panggung. Kemudian berlanjut menuju Madya Mandala (Jaba Tengah), disini terdapat pelinggih atau tempat pemujaan Sang Kala Sunyah, Penghayatan Ratu Gede Penataran Ped, Bale Pemedek, Bale Gong, dan Bale Kulkul. Dan yang terakhir pada bagian Utama Mandala (Jeroan), dimana tempat ini sangat disakralkan, disini terdapat Pelinggih Ida Batara Watu Makocok (Makocel). Di Makocel ini dinilai memiliki kekuatan spiritual yang sangat tinggi sehingga pelinggih ini kerap dijadikan sebagai tempat untuk memanggil kekuatan alam supaya dianugerahi keselamatan, kesuburan dan kesejahteraan.
Nikmatilah kesakralan serta keindahan Pura Batu Klotok bersama kami KSB Tour & Travel di Klungkung Bali.

Minggu, 12 Agustus 2012

Pura Tanah Lot


Pura Tanah Lot adalah sebuah pura yang berlokasi di Desa Beraban, Kediri, Tabanan , kira-kira 30 km sebelah Barat kota Denpasar. Dibangun pada abad XVI oleh Dang Hyang Nirartha yang juga dikenal sebagai Pedanda Sakti Wawu Rauh (Pedanda Sakti yang baru datang), yakni seorang pendeta yang datang dari tanah Jawa dalam rangka perjalanan spiritual/misi Tirtha Yatra ke Bali.
Keunikan dari Pura Tanah Lot ini adalah apabila pada saat pasang naik, pura nampak seperti terapungditengah laut. Dari sinilah namah Tanah Lot (laut) diambil, karena sejatinya Tanah Lot memiliki pengertian “Tanah ditengah Laut”. Di komplek pura yang tidak terlalyu luas ini (3 are) , terdapat beberapa pelinggih diantaranya Meru tumpang 5 tempat pemujaan dewa penguasa laut yakni Dewa Baruna yang sering disebut Bhatar Segara atau Dalem Tengahing Samudra, Meru Tumpang 3 untuk memuja kemuliaan /keagungan Dang Hyang Nirartha atas jasanya mengembangkan dan mengajarkan Hindu di daerah ini..
Disamping itu terdapat pula sebuah Lingga yang mulai dikenal di bali sekitar abadVIII sebagai tempat memuja Dewa Siwa guna memohon keselamatan. Disekitar pura Tanah Lot terdapat juga beberapa pura lainnya seperti pura Batu Bolong, Pura Enjung Galuh dll.
Di bawah pura pada sebuah ceruk terdapat mata air tawar yang diyakini sebagai mata air suci karena berlokasi persis di bawah pura serta rasanya tawar padahal dikelilingi oleh air laut yang asin. Banyak pengunjung meyakini dapat memeberikan keselamatan serta keberuntungan, bahkan tidak sedikit pengunjung percaya dapat menyebabkan awet muda. Di seberang ceruk mata air terdapat ceruk lain yang dihuni ular-ular belang jenis Hydrophiidae yang sebenarnya sangat berbisa, namun dianggap unik karena begitu jinak bahkan saat di sentuh oleh jutaan pengunjung hingga saat ini tidak ada yang gigit.
Masyarakat lokal meyakini ular ini sebagai jelmaan selendang yang diberikan Dang Hyang Nirartha sebagai penjaga kawasan pura terutama pada saat beliau bermeditasi waktu ini.  Dikalanagan masyarakat ada juga sebuah mitos bahwa apabila sepasang kekasih yang belum menikah melanggar norma setempat bermesraan dilokasi ini akan mengalami putus hubungan sebagaimana hal putusnya batu karang di lokasi pura dengan daratan terdekat ini. Boileh jadi ini hanaya bermakna sebagai pesan moral, boleh jadi benar adanya,. Selain itu anda juga bisa menikmati keeksotisan sunset di Tanah Lot ini.

Taman Ayun temple


Taman Ayun temple is one temple in Bali. This temple was built in 1634 by “Cokorda Sakti Blambangan“. Once upon time this temple was built only for the royal family. Over time this temple to becomed publik temple. This temple of land sourounded by  the pool from far away the shape of this temple looks like around and gives the impression that the temple is located above the water surface. This pool used for fishing activities for tourism. It is located in Mengwi village, Mengwi Sub District, Badung Regency aproximately 18 km from Denpasar. Taman Ayun temple is derived from the words “Taman and Ayu”. “Taman means garden, and Ayu means beautiful”. So Taman Ayun meansbeautiful garden.  Taman Ayun temple has area of 100m x 250m . It is divided into three area. The first area is “Jaba Side”. Thera are many sellers, beautiful fountains. wantilan is typical Balinese multi functional building for the meetings, preparation of traditional ceremoniesperformances or entertainment. The function or this area is secular activities. the second area is “Jaba The Middle”. There are is Bale Kulkul, Bale Pelik to worship spirits of the king and Dewata Nawa Sanga structure. The function or this area is praying for hindusm. The third area is“Jeroan”. It is according that is temple building with 9 multistoried roofs. It is very sacred because it’s only for the priests and the gods. This temple is suitable for every body.

Pura ulun Danu Batur


Pura Ulun Danu ini terletak di Desa Batur, Kintamani – Bangli, sekitar 70 km dari Denpasar. Pura ini awalnya terletak di kaki Gunung Batur. Pura dengan areal yang sangat luas dengan gerbang , baik Candi-bentar maupun Kuri-agung sertabangunan-bangunan Meru, begitu megah tinggi menjulang seakan berlomba hendak menyentuh langit, ditambah bangunan dan pelinggih lain yang jumlahnya ratusan membuat pura ini sangat mengesankan untuk dikunjungi.
Latar belakang gunung dan danau Batur menegaskan tempat ini seperti alam kedewataan. Berdasarkan uraian beberapa lontar disebutkan bahwa Pura Ulun Danu Batur berfungsi untuk memuja Tuhan dalamj manifestasi Wisnu dan Dewi Laksmi atau Dewi Ulun Danu dengan tujuan untuk memohon anugerah, utamanya kemakmuran dan keberhasilan dibidang pertanian yang berkaitan dengan air dan persubakan.
Sebagaimana pura lainnya Pura Ulun Danu Batur juga menerapkan konsep Tri Mandala dalam mengatur pembagian fungsi ruang dan tata letak bangunan. Pembagian ruangan tingkat alam yakni: alam paling atas / utama mandala untuk para Dewa disebut Jeroan. Alam tengah / madya mandala untuk manusia disebutJaba Tengah. Dan alam bawah / nista mandala untuk bhuta kala disebut Jaba Sisi yang masing-masing dibatasi dengan Candi Bentar sebagai gerbang pertama dan Kuri agung sebagai gerbang berikutnya. Beberapa upacara penting di pura ini :
  1. Usabha Gede atau aci Bhatara Turun Kabehu yang terutama ditujukan kepada Ida Bhatara Sesuhunan Makalihan, dilaksanakan pada sasih ke dasa (bulan 10) dengan menghaturkan hasil bumi, memohon tirrtha Peneduh sebagai sarana memeperoleh kesuburan dan menetralisir gangguan hama padi.
  2. Aci Neduh dipersembahkan kepada Ida Ratu ayu Kentel Gumi yang dipercayai sebagai penguasa dan pengendali hama. Upacara dilaksanakan pada setiap sasih ke nem (bulan 6).
Selain menikmati indahnya puraini para wisatawan juga bisa menikmati indahnya panorama di Danau Batur ini. Danau Batur yang usaranya bersih, sejuk dan segar sangat cocok untuk mengisi liburan anda bersama kami di Pulau Bali ini.

Pura Kehen


Pura Kehen berasal dari kata “KEHEN/Keren yang artinya Api, tungku “. Pura Kehen terletak di lingkungan Pakuwon, 1,5 km utara kota Bangli, 45km dari Denpasar. Dibangun pada kaki sebuah perbukitan disekitar pemukiman penduduk. Pura Kehen sudah ada sejak abad IX. disamping arsitekturnya yang artistik, Pura Kehen memiliki beberapa keistimewaan dan keunikan seperti tata letak pura yang berbeda dengan pura lainnya. Kalau di pura lain gerbang pertama biasanya berupa Candi Bentar untuk masuk ke Jaba Tengah dan berikutnya Kuri Agung untyuk menuju ke Jeroan, tapi di Pura Kehen terjadi sebaliknya. Setelah menaikai tangga yang dihiasi patung-patung epos Ramayana dikiri-kana, melewati patung Gajah di bagian paling depan yang berfungsi sebagai Dwara Pala, pengunjung akan di sambut oleh Kuri Agung/Paduraksa yang diukir sangat indah untuk menuju ke Jaba Tengah. di ujung tembok penyengker berdiri megah sebuah Bale Kulkul yangjuga terukir indah.
Di bagian Jaba Tengah terdapat bangunan panggungan untuk menyimpan perlengkapan pura, Bale Gong dengan seperangkat gamelan. Pemandangan lain yang cukup menarik perhatian di bagian ini adalah phon beringin raksasa, di mana sebuah Kulkul/kentongan besar tergantung dalam sebuah konstruksi seperti Gazebo di cabang pohon cukup tinggi dari permukaan tanah. Keunikan lainnya adalah hiasan keramik cina pada sebagian tembok pembatas pura yang menanadakan keterlibatan Bali pada jalur perdagangan dunia di masa lalu.
Di bagian Jeroan, bangunan yang paling menonjol adalah pelinggih Meru Tumpang 11 untuk pemujaan Tuhan dalam manifestasi 11 wujud Siwa atau Eka-Dasa rudra. Padma Tiga sebagai pelinggih Tri Murti : Brahma, Wisnu, dan Siwa. Gedong penyimpanan dimana Bejana Sarpantaka diletakkan dan beberapa pelinggih lain menjadi lebih menarik karena tidsak terlalu ramai dikunjungi wisatawan.

Pura Luhur Batukaru


Pura Luhur Batukaru adalah sebuah pura berlokasi di Desa Wangaya Gede, Kecamatan Penebel-Tabanan, sekitar 42 km dari Denpasar. Pura ini dibangun pada abad kurang lebih pada abad ke XI. Pura ini di bangun dilereng gunung yang juga bernama Gunung Batukaru (Batu-karu/kau artinya batok kelapa, sesuai dengan bentuk gunung yang nampak seperti tempurung kelapa terbalik dari kejauhan). Sebagaimana diketahui , masyarakat Bali Hindu meyakini konsep Tri Loka, yaitu adanya alam atas Swah-loka untuk Tuhan, alam tengah Bwah-loka untuk manusia, dan alam bawah Bhur-loka untuk bhuta kala, maka gunung merupakan areal suci tempat berstananya para dewa dalam berbagai manifestasi.
Demikian halnya Pura Luhur Batukaru sengaja dibangun di lereng gunung, dimaksudkan untuk mendapatkan atmosfer yang baik, sejuk, tenang, dan damai, sehingga mendukung upaya panyatuan pikiran dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan. Komplek pura ini dikelilingi hutan lebat yang diyakini keramat, terasa menambah nuansa magis kawasan ini. Pura ini berstatus sebagai Pura Sad Kahyangan (salah satu dari 6 pura terpenting di Bali), sekaligus sebagai Kahyangan Jagat bagi seluruh masyarakat. Puta ini sebagai tempat pemujaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Mahadewa.
Struktur dan tata letak  pura sama dengan pura lainnya terbagi menjadi 3 mandala yaitu Jaba/Nista-mandala, Jaba Tengah / Madya-mandala, dan Jeroan/Utama-mandala. Di areal Jeroan terdapat beberapa bangunan selain Tepasana sebagai pelinggih utama, Meru, dan bangunan lain dengan fungsi masing-masing. Di pura ini diyakini juga adanya suatu pantangan membawa anak yang belum tanggal/ketus gigi untuk bersembahyang, karena pada kenyataan sering mengalami hal kurang baik bahkan fatal misalnya terpagut ular akibat pelanggarannya.

Pura Goa Gajah


Pura Goa Gajah terletak di  Desa Bedulu,Kecamatan Blahbatuh Kabupaten Daerah Tingkat II Gianyar. Kurang lebih 26 km dari Denpasar. Pura ini di lingkupi oleh persawahan dengan keindahan ngarai sungai Petanu, berada pada jalur wisataDenpasar – Tampaksiring – Danau Batur – Kintamani.
Pura Goa Gajah merupakan salah satu pura terunik di Bali. Pura ini dinamakan Pura Goa Gajah bukan nkarena di sini banyak gajah melainkan pura ini terdapat di dalam gua yang menyerupai bentuk gajah, oleh karena itu Pura ini diberi nama Pura Goa Gajah. Ketika para wisatawan hendak masuk ke areal pura terlebih dahulu para wisatawan menggunakan selendang yang telah tersedia di loket sebelum masuk.
Sebelum anda disuguhkan dengan keunikan pura Goa Gajah ini terlebih dahulu anda harus melewati jalan setapak yang menurun serta berundak-undak yang hampir setiap pinggiran jalan ini terhiasi beraneka macam tumbuhan yang membuat jalan ini menjadi lebih sejuk. Setelah memasuki areal ini anda akan disuguhkan secara langsung keindahan pahatan dari Goa ini. Selain itu anda juga menikmati suasana goa di dalam Pura Goa Gajah ini. Di dalam Goa terdapat beberapa tempat persembahyangan untuk agama Hindu. Diantaranya terdapat 3 Batu suci serta patung yang di sucikan di pura ini. Setelah anda merasa puas dengan keunikan pura ini, anda juga di manjakan dengan keindahan air mancur atau air yang mengalir dari lingga-lingga di pura ini. Di mana terdapat kolam besar yang indah dengan beberapa ikannya yang besar.
Disamping itu di Pura ini juga terdapat sebuah air terjun yang airnya sangat segar dan pemandangannya yang indah. Namun, terlebih dahulu anda harus melewati beberapa tangga yang menurun untuk sampai di air terjun ini. Di sini sangat cocok untuk menghilangkan lelah sambil bersantai bersama air terjun yang indah ini. Selain indahnya air terejun, anda akan dimanjakan dengan indahnya tumbuhan yang tumbuh subur di tempat ini. Seakan tumbuhan-tumbuhan tersebut memberi nilai tambahan untuk obyek wisata Pura Goa Gajah ini. Anda juga bisa memanfaatkan keindahan alam ini untuk berfoto-foto sekaligus mendokumentasikan dalam daftar wisata anda di bali ini terutama pada wisata Pura Goa Gajah ini.

Pura Gunung Kawi


Pura Gunung Kawi terletak di Desa & Kecamatan Tampaksiring-Gianyar, sekitar 38 km dari Denpasar. Sebuah komplek peninggalan purbakala berupa candi-candi setinggi kira-kira 7 meter, lebih tepat disebut sebagai monumen kuno yang dipahat pada sisi-sisi tebing Sungai Pakerisan 9keris adalah padanan kata jalu).diciptakan.
Candi merupakan simbol gunung yang dalam konsep Hindu merupakan tempat bersthana para Dewa. Kawi berarti ada/diciptakan. Dengan demikian Gunung-Kawi dapat diartikan sebagai candi yang dibuat untuk memuliakan, memuja atau mensthanakan raja-raja yang berkuasa pada saat itu adalah dari dinasti Warmadewa. Pada sisi barat sungai terdapat deretan candi yang terdiri dari 4 buah, disimpulkan sebagai candi untuk para selir raja. Di bagian selatan dari lokasi ini yang sekrang beradadi dalam komplek pura adalah peninggalan berupa ceruk-ceruk tempat pertapaan yang salah satunya nampak memiliki fungsi khusus dengan adanya sebuah lubang di tengah-tengah lantai yang biasanay dipakai sebagai tempat melaksanakan ritual Agni Homa (upacar penyucian dengan sarana api). Di depan ceruk/gua pertapaan terdapat beberapa buah batu persegi empat dengan sembilan lobang yang disebut pripih. Sembilan lobang tersebut melambangkan kosmos dengan delapan penjuru mata angin ditambah satu di tengah sebagai pusat, sering dihubungkan dengan Dewata Nawa Sanga.
Komplek pura ini terdiri dari beberapa bagian :
Pada sisi timur sungai paling utar berupa deretan 5 buah candi, dibagian atascandi pertama terdapat tulisan yang berbunyi “Haji Lumahing Jalu” yang arti harfiahnya adalah Rumah Raja di Pakerisan karena kata Haji berarti raja, Lumahadalah rumah dalam hal ini berarti candi, jalu identik dengan keris. Atas dasar tersebut diyakini bahwa candi tersebut adalah untuk Raja Udayana. Lalu padacandi kedua terdapat tulisan yang berbunyi “Rwa-anakira” yang berarti “dua anaknya”.   Berdasarkan tulisan tersebut maka candi itu masing-masing diperuntunkan bagi kedua putra Raja Udayana yakni Marakata dan Anak Wungsu. Candi yang lainnya pada deretan ini diperkirakan untuk  para permaisuri. Satu lagi komplek candi di sisi barat sungai berlokasi agak jauh menyendiri dibagian selatan. Candi ini diperuntunkan bagi “Rakryan” yaitu jabatan semacam Perdana Menteri/Mahapatih kerajaan sebagaimana yang tertulis di sana. Untuk mencapai tempat ini, pengunjung harus melewati pematang sawah dengan jalur yang agak berliku. Bagi pengunjung berusia lanjut relatif mengalami kesulitan untuk mencapai lokasi ini, apalagi pada waktu hujan, dalam pengertian tempat ini tidak selalu dikunjungi.

Pura Luhur lempuyang


Pura Lempuyang Luhur terletak di Bukit Gamongan,pada puncak  bukit Bisbis atau Gunung Kembar di desa Purahayu, kecamatan Abang, kabupatenKarangasem. Jaraknya dari kota AmlaPura lebih kurang 22 km, arah keutara melalui Tirtagangga menuju desa Ngis di kecamatan Abang kemudian membelok ketimur langsung ke desa Purahayu.
Pura Lempuyang adalah salah satu Pura Suci di Bali dan sekaligus sebagai obyek wisata di Bali. Perjalanan untuk menuju Pura ini sangat melelahkan karena menghabiskan waktu kurang lebih 3 jam di samping itu tak jarang kita akan menemui  jalan yang sempit dan berjurang terjal, serta meanjak terus. Namun, rasa lelah akan terobati ketika sampai di Pura nan indah dan suci ini. Karena di Pura ini akan menyuguhkan anda pemandangan Pura yang megah dan sejuk.
Bagi para wisatawan yang ingin melihat keindahan dari Puncak Gunung Lempuyang menuju Pura utama Sad Kahyangan Lempuyang Luhur di puncak kita harus menapaki kurang lebih  1.700 (seribu tujuh ratus) anak tangga, pada saat menapaki jalan ke puncak inilah kita di suguhi udara sejuk dari hutan yang masih asri, suara-suara satwa dan pemandangan alam Kabupaten Karangasem yang memukau, yang lebih unik. Tak jarang bagi Umat Hindu tangkil ke Pura ini. Terlebih dahulu para Umat Hindu harus memepersiapkan ketahanan fisik yang bagus, selain itu di Pura ini memiliki beberapa larangan diantaranya, melarang masuk ke areal pura bagi orang yan Cuntaka ( ada org meninggal dlm keluarganya ), wanita haid, dll.

Pura Goa Lawah

Pura ini berdiri di wilayah pertemuan antara pantai dan perbukitan dengan sebuah goa yang dihuni beribu-ribu kelelawar.Lokasinya sekitar 20 kilometer di sebelah timur kota Semarapura, Klungkung atau kurang lebih 59 kilometer dari kota Denpasar. Pura Goa Lawah merupakan salah satu Pura yang berstatus Pura Khayangan Jagat. Pura Goa Lawah berarti  Pura yang goanya terdapat banyak kelelawar bergelantungan di pura ini. Hal inilah menjadi keunikan serta daya tarik bagi para wisatawan untuk mengunjungi pura ini.

Selain itu keindahan perpaduan pantai dan perbukitan juga menjadi nilai tambahan di Pura ini. Ditambah suara gemuruh dari kelelawar yang tiada hentinya dari pagi hingga malam, anda juga dapat melihat ribuan kelelawar yang terbang bebas dari Goa, serta kelelawar yang bergelantungan di dalam Goa ini. Ini menambah nilai mistik pada Pura Goa Lawah ini.

Di depan Goa terdapat beberapa ppelinggih,. serta di pelatarannya berdiri kokoh beberapa meru. Bagi para wisatawan yang ingin masuk ke areal pura terlebih dahulu mengenakan selendang atau kamen/kain. Bagi para wisatawan yang ada halangan haid dilarang masuk ke areal Pura ini. Pura ini sangat cocok untuk menambah daftar wisata anda di Bali bersama kami KSB (Kasuri Bali Tour ).

Pura Rambut Siwi


Pura Rambut Siwi merupakan salah satu Pura terbesar di Bali khususnya daerah Bali Barat, Jembrana. Pura ini terletak di Desa Yeh Embang Kangin, Kecamatan mendoyo, Kabupaten Jembrana Bali. Tak jarang bagi umat hindu yang ingin melintasi daerah Gilimanuk, berhenti sejenak untuk melakukan persembahyangan guna memohon keselamatan di Pura rambut Siwi ini.
Di sebut Pura Rambut Siwi, konon ada seorang Mpu yang bernama Mpu Dang Hyang Nirartha yang mengadakan Tirtha Yatra ke  Bali. Tepat beliau mengunjungi salah satu Pura yaitu Pura Rambut Siwi ini. Ketika beliau memasuki areal pura ini, beliau bertemu seorang penjaga dari Pura Rambut Siwi ini, dimana penjaga pura tersebut menyuruh Mpu Dang Hyang Nirartha untuk bersembahyang di Pura ini, jika tidak beliau akan diterkam oleh harimau ganas demikianlah ancaman penjaga pura tersebut agar beliau berkeinginan untuk bersembahyang di Pura ini. Karena diharuskan, beliau menyembah di pura ini. Ternyata setelah beliau menyembah pura ini menjadi hancur dan berantakan. Karena kejadian tersebut penjaga pura meminta maaf terhadap Mpu Dang Hyang Nirartha dan penjaga tersebut memohon kepada beliau untuk mengembalikan kembali pura ini seperti sedi kala. Atas kewisesaan Mpu Dang Hyang Nirartha beliau mengembalikan pura ini menjadi utuh seperti sedia kala dan beliau mengambil sehelai rambut dsan diletakkan di pura tersebut untuk dijadikan sarana pemujaan di pura ini. Dengan demikian dari sejarah itulah nama Pura ini diambil dan sampai sekarang pura ini terkenal dentgan sebutan Pura Rambut Siwi.
Pura ini memiliki keeksotisan sendiri, dimana pura ini menyuguhkan anda keindahan tebing serta lautan maupun hamparan Samudera Hindia yang dapat anda saksikan pada depan Pura Rambut Siwi ini. Selain itu anda akan dimanjakan dengan kemegahan sunset yang tak kalah megahnya dg sunset di Pura Tanah Lot Bedanya pada Pura ini suasana sepi dan tenang sangat khas untuk menikmati indahnya sore hari di Pura rambut Siwi ini.